LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING
A.
Landasan Filosofis
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philos berarti cinta, dan shopos
berarti
bijaksana. Dengan landasan
inilah, pelayanan bimbingan dan konseling meliputi tindakan dan kegiatan yang
seluruhnya merupakan tindakan yang bijaksana. Pemikiran dan pemahaman filosofis
bermanfaat bagi pelayanan bimbingan dan konseling serta konselor, yaitu
membantu konselor maemahami situasi dan untuk mengambil keputusan yang tepat.
Berikut adalah beberapa pemikiran filosofis yang terkait dengan pelayanan
bimbingan dan konseling, yaitu :
a)
Hakikat Manusia
Alblaster
& Lukes,1971;Thompson & Rudolph,1983)
Ø Manusia adalah makhluk rasional
Ø Manusia terus berupaya mengembangkan dirinya melalui
pendidikan
Ø Manusia dilahirkan dengan potensi menjadi baik atau buruk
Viktor Frankl
(dalam Thompson & Rudolph, 1983) mengaskan bahwa:
Ø
Manusia
memiliki dimensi fisik, psikologis, dan spiritual
Ø
Manusia
akan menjalani tugasnya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan
tugas tersebut
Ø
Manusia
adalah unik.
Hakikat manusia yang lain :
Ø Manusia adalah makhluk
yang diciptakan oleh sang Khalik
Ø
Manusia
adalah makhluk yang paing tinggi dan mulia derajatnya, serta paling indah
sebagai ciptaan Tuhan
Ø
Keberadaan
manusia dilengkapi dengan empat dimensi kemanusiaan ( dimensi keindividualan,
kesosialan, kesusilaan, dan religius ). Untuk mengoptimalakan kemanusiaan
tersebut, upaya-upaya pendidikan, pembudayaan, dan konseling perlu diadakan.
Upaya-upaya tersebut perlu didasarkan pada pemahaman tentang hakikat manusia
itu sendiri agar tidak melanggar fitrah tentang hakikat manusia itu sendiri.
B.
Landasan
Religius
Landasan religius dalam bimbingan
dan konseling memiliki tiga hal pokok, yaitu :
1.
Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam
semesta adalah
2.
Sikap yang mendorong perkembangan dan
perikehidupan manusia yang sesuai dengan kaidah-kaidah agama
3.
Upaya yang memungkinkan berkembang dan
dimanfaatkannya suasana dan perangkat budaya serta kemasyarakatan
secara optimal sesuai dengan kehidupan beragama untuk
memecahkan masalah individu.
a)
Manusia
Sebagai Makhluk Tuhan
Keyakinan
ini menekankan pada ketinggian derajat dan keberadaan manusia yang paling mulia
dibandingkan makhluk Tuhan lainnya. Manusia sebagai khalifah di bumi dan
keberadaannya tersebut perlu dimuliakan oleh manusia itu sendiri. Penerapan
segenap potensi yang dimiliki manusia berkaitan dengan ketakwaan kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Perwujudan ketakwaan
tesebut berupa seimbangnya hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan hubungan antara
manusia dengan manusia lain di lingkungannya.
Kemanusiaan
manusia sebenarnya kemampuan manusia untuk mewujudkan ketakwaanya kepada Tuhan
Yang Maha Esa, dimana wujud nyatanya adalah melakukan segala aktivitas hidupnya berdasarkan
ajaran-ajaran agama. Manusia yang tidak mengembangkan kemanusiaannya dapat
merugikan manusia lain. Kemanusiaan yang pada dasarnya ada pada tiap individu
tidak boleh dibiarkan begitu saja. Adanya pembiaran ini justru akan mengarahkan
manusia kepada perkembangan yang negatif.
b)
Sikap
Keberagaman
Makna
“keagamaan” sangat beraneka ragam dan diwarnai oleh unsur-unsur kebudayaan yang
dibuat oleh manusia sendiri. Namun, dalam beberapa kondisi keagamaan, peranan
agama telah terdegradasi , agama hanya dijadikan alat untuk memenuhi kepantasan
belaka. Misalnya pada dunia Barat, gereja hanya dianggap sebagai lembaga yang
digunakan sebagai lembaga
penyelenggara upacara-upacara ritual seperti kelahiran, kematian,dan perkawinan
(Bernard&Fullmer, 1969).
Degradasi
nilai keagamaan ini salah satunya pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ilmu pengetahuan yang berdasarkan rasionalitas manusia dan berdasarkan pada
kenyataan hidupmanusia dapat mengabaikan ajaran-ajaran agama yang dianggap
“tidak rasional”.
Sikap
keberagaman menjadi tumpuan keseimbangan hidup dunia dan akhirat. Penyikapan
itu, pertama difokuskan pada agama itu sendiri, yaitu sikap saling menghargai agama lain.
Kedua, peningkatan ilmu dan teknologi didasarkan pada keserasian hidup di dunia
dan akhirat. Pengembangan ilmu dan teknologi yang ditujukan bagi kesejahteraan manusia
banyak merupakan tuntutan dan tuntunan agama
itu sendiri.
c)
Peranan
Agama
Studi tentang gejala keagamaan,
khususnya sebagai gejala psikologis, telah menjadi pusat perhatian para ahli.
Kajian tentang hubungan agama dan psikologi ini di dasarkan pada asumsi bahwa
manusia pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengalami peristiwa keagamaan
dalam dirinya.
Di Indonesia, keadaan kehidupan
beragama sangat beragam. Pemerintah dan masyarakat sama-sama memiliki tanggung
jawab pada perkembangan dan keberadaan kehidupan beragama. Sila Ketuhanan Yang
Maha Esa benar-benar di jadikan sebagai dasar dan arah yang menjiwai bangsa dan
warga masyarakat dalam upaya pembangunan nasional. Peranan agama dalam upaya pemuliaan kemanusiaan manusia
mendapatkan tempat yang penting dan strategis. Tujuan yang ingin di capai dalam
dunia pendidikan dengan kaitannya dalam kehidupan beragama yaitu tujuan yang
menyangkut manusia yang beriman dan
bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa (UU no.2/1989 tentang Sistem
Pendidikan Nasional).
Dalam bimbingan dan konseling
diperankan kaidah-kaidah agama yaitu berkenaan dengan hakikat klien, serta
konteks sosial-budayanya. Untuk memberikan peran positif agama dalam konseling,
pertama, konselor hendaknya orang
yang beragama dan mengamalkan kaidah-kaidah agamanya itu. Kedua, konselor mampu mentransfer kaidah-kaidah agama yang relevan
dengan permasalahan klien. Ketiga ,konselor
harus benar-benar memperhatikan dan menghormati agama klien. Landasan religius dalam bimbingan dan
konseling pada umumnya ingin menetapkan klien sebagai makhluk Tuhan dengan
segala kemuliaan kemanusiaannya sebagai fokus netral upaya bimbingan dan
konseling.
C.
Landasan Psikologis
Psikologi merupakan kajian tentang tingkah laku
individu. Dimana setiap individu termasuk siswa merupakan pribadi-pribadi yang unik dengan segala karakteristiknya. Siswa
dalam perkembangannya memiliki sifat dinamis dalam rangka memenuhi
kebutuhannya, dan akan terus mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari proses belajar. Hal tersebut merupakan salah satu aspek psikologis yang
bersumber dari siswa sebagai subjek pendidikan yang suatu saat dapat
menimbulkan berbagai masalah. Landasan
psikologis dalam bimbingan dan konseling berarti memberikan pemahaman tentang
tingkah laku individu yang menjadi sasaran (klien) yang mana tingkah laku
tersebut ada yang perlu diubah atau dikembangkan jika ingin mencapai tujuannya
ataupun mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya. Masalah-masalah
psikologis yang merupakan latar belakang perlunya bimbingan dan konseling di
sekolah :
a)
Masalah Perkembangan Individu
- Asuhan melalui pendidikan
yang salah
- Penyesuaian diri yang
kurang berjalan dengan baik
- Goncangan akibat masa
transisi dari remaja menuju dewasa
b)
Masalah Perbedaan Individu
-
Perbedaan dalam menangkap/mencerna suatu pelajaran
di sekolah
-
Kesulitan dalam menyesuaikan diri antara
keunikan-tuntutan lingkungan
-
Perbedaan latar belakang keluarga
c)
Masalah Kebutuhan Individu
-
Kebutuhan biologis
-
Kebutuhan sosisl/psikologis
-
Kebutuhan fisiologis, rasa aman, cinta dan
dicintai, harga diri dan aktualisasi diri (Maslow).
d)
Masalah Penyesuaian Diri
-
Gagal dalam proses penyesuaian diri (maladjusted)
e)
Masalah Belajar
-
Metode belajar yang kurang tepat
-
Penentuan waktu belajar yang kurang tepat
-
Persiapan tes/ujian yang kurang matang
Untuk keperluan bimbingan
dan konseling sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologi perlu dikuasai,
yaitu tentang :
a.
Motif dan motivasi
b.
Pembawaan dasar dan lingkungan
c.
Perkembangan individu
d.
Belajar, balikan dan penguatan
e.
Kepribadian.
D.
Landasan Sosial Budaya
Manusia
merupakan makhluk sosial dan berbudaya,seburukapapun budaya mereka, pasti setiap manusia memiliki budaya. Dalam kehidupan manusia,
terdapat ketentuan-ketentuan yang mengatur hak dan kewajiban individu untuk
mencapai keteraturan dalam masyarakat. Ketentuan itu dijadikan rujukan bagi
generasi penerus untuk melestasrikan kebudayaan tersebut. Masyarakat dan
kebudayaan merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama (Budhi Santoso
1992). Ditengah perkembangan zaman,terjadi pula
perubahan-perubahan, baik itu perubahan sosial maupun budaya. Setiap manusia
memiliki tingkat respon yang berbeda-beda dalam menghadapi perubahan tersebut.
Dengan adanya banyak perubahan, maka akan semakin kompleks pula masalah yang
dihadapi masyarakat. Salah satu manifestasi dari budaya adalah sebuah gaya atau
pola hidup, dimana pola hidup tersebut memberikan dampak bagi kehidupan
sosial-nya. Perubahan menuju kemajuan ( modern ) dalam bidang material semata
akan melahirkan rasa tidak nyaman bagi seseorang yang dapat mengganggu
psikologis individu itu sendiri. Problema yang sering timbul akibat sampingan
gaya hidup modern-materialistik adalah :
Ø Kecemasan terhadap hal-hal yang belum pasti
Ø Merasakan kehidupan yang serba rumit
Ø Terjadi penyimpangan moral dan nilai-nilai
sosial
Ø Hilangnya identitas diri (Rusdi Muslim, Suara
Pembaharuan, 9 Oktober 1993)
Atas dasar-dasar
tersebut , sekolah sebagai lembaga
pendidikan formal memiliki peran penting untuk mengarahkan dan membimbing siswa
sebagai makhluk individu ataupun makhluk kolektif agar mampu menyesuaikan
dengan perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat. Kegiatan belajar
mengajar belumlah cukup untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa. Bukan
hanya ilmu akademis yang harus diberikan oleh para guru, namun keikutsertaan
mereka dalam lingkungan sosialnya juga harus diperhatikan. Oleh karena itu,
peran Bimbingan dan Konseling yang secara khusus diberikan tugas dan tanggung
jawab untuk membimbing siswanya untuk membantu menyelesaikan masalah yang
dihadapi siswa. Baik masalah
belajar, penyesuaian diri, masalah pribadi, maupun masalah-masalah yang ada di
lingkungan masyarakatnya yang apabila dibiarkan akan menghambat perkembangan
belajar siswa di sekolah. Diharapakan, guru Bimbingan danKonseling dapat
memahami dan menguasai keadaan (masalah) yang dihadapi oleh para siswa serta
memiliki andil besar dalam membantu menyelesaikan masalah tersebut.
E.
Landasan Ilmiah Teknologis
Pelayanan
bimbingan dan konseling merupakan kegiatan profesional yang berdasarkan pada nilai-nilai
keilmuan, baik dari segi teorinya, pelaksanaannya, dan pengembangan
pelayanannya secara berkelanjutan.
Keilmuan Bimbingan dan Konseling
Ilmu bimbingan dan konseling adalah
berbagai pengetahuan tentang bimbingan dan konseling yang tersusun secara logis dan sistematik. Ilmu bimbingan dan konseling
memiliki obyek kajian, metode penggalian pengetahuan, dan sistematika dalam
pemaparannya. Obyek kajian bimbingan dan konselinga adalah upaya bantuan yang
diberikan kepada individu yang mengacu
pada empat fungsi pelayanan. Kemudian metode digunakan untuk mengungkapkan pengetahuan tentang bimbingan dan konseling melalui analisis dokumen, prosedur tes,
wawancara, pengamatan, dan analisis laboris. McDaniel mengemukakan bahwa konselor adalah ilmuwan, karena mendasarkan teori, pendekatan, dan tindakan-tindakannya
pada kaidah-kaidah keilmuwan. Konselor juga dianggap
sebagai seorang seniman, karena apapun yang dilakukan oleh konselor tidak lepas
dari unsur-unsur keilmuan dan menangani masalah klien dengan penuh kehangatan
dan kreativitas dalam hubungan antar pribadi.
Bimbingan dan konseling merupakan
ilmu yang bersifat multireferensial,
yang berarti ilmu dengan rujukan dari berbagai ilmu. Sumbangan dari ilmu lain
tersebut tidak hanya terbatas pada pembentukan dan pengembangan teori-teori
bimbingan dan konseling, namun juga dalam praktek pelayanannya. Salah satu ilmu
dan teknologi yang berkembang cepat, dimanfaatkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya pada
bimbingan karier dan bimbingan/konselor pendidikan (Gaushel,1984).
F.
Landasan Pedagogis
Pendidikan merupakan salah satu lembaga sosial yang
universal yang berfungsi sebagai sarana reproduksi sosial. Melalui reproduksi
sosial inilah nilai-nilai dan norma-norma akan tetap terjaga keberadaannya.
Tujuan inti atau bisa dikatakan tujuan
umum dari pendidikan adalah
perkembangan kepribadian secara optimal dari setiap anak didik sebagai pribadi.
Pendidikan sebagai landasan bimbingan dan konseling dtinjau dari tiga segi,
yaitu :
a)
Pendidikan Sebagai Upaya
Pengembangan Individu : Bimbingan Merupakan Bentuk Upaya Pendidikan
Manusia yang
dimaksud disini adalah manusia yang berkembang dimana pendidikan sebagai media dalam proses dan media tercapainya tujuan
perkembangan tersebut. Komponen-komponen pendidikan yang harus
dimiliki dalam pelayanan bimbingan dan konseling adalah (a) usaha sadar,
(b)penyiapan peserta didik, (c) untuk perannya dimasa
depan, (d) melalui tujuan-tujuan bimbingan dan konseling. Dalam artian bimbingan sebagai upaya pendidikan adalah proses
dalam bimbingan tersebut agar klien mantap dalam keberagamannya, berbudi luhur,
berpengetahuan,dan memiliki tanggung jawab soaial kemasyarakatan dan
kebangsaan.
b)
Pendidikan sebagai inti proses bimbingan konseling
Ciri pokok adanya upaya pendidikan adalah (a) peserta
didik terlibat dalam proses belajar, (b) kegiatan tersebut bersifat normatif. Nugent(1981) mengemukakan dalam
konseling, klien mempelajari keterampilan dalam mengambil keputusan, pemecahan masalah, tingkah laku, tindakan, sikap-sikap baru, dan lain-lain.
Proses bimbingan konseling adalah usaha klien mempelajari
yang merupakan wujud dari pendidikan.
c)
Pendidikan Lebih Lanjut sebagai Inti Tujuan Bimbingan dan
Konseling
Hasil pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya
berhenti pada suatu hasil saja, namun perlu dilanjutkan untuk mencapai
hasil-hasil selanjutnya. Proses pendidikan yang berhasil,telah memperkaya
peserta didik dan semakin memantapkan pribadi peserta didik menuju manusia
seutuhnya.
G.
Landasan Yuridis—Formal
ü Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Pada Bab I pasal 1 butir 6 dinyatakan bahwa pendidik
adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor,
pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan
sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam
penyelenggaraan pendidikan
ü Pelayanan konseling yang merupakan bagian dari
kegiatan pengembangan diri telah termuat dalam struktur kurikulum yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri
Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentangStandar isi
untuk Satuan Pendidikan Dasar Menengah.
ü Beban kerja Guru bimbingan dan konseling atau
konselor pada Pasal 54 ayat (6) Peraturan Pemerintah republic Indonesia Nomor
74 Tahun 2008 tentang Guru yang menyatakan bahwa beban kerja Guru bimbingan dan
konselingatau konselor yang memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan
adalah mengampu bimbingan dankonseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh)
peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan.
ü Lebihlanjut dalam penjelasan Pasal 54 ayat (6)
yang dimaksud dengan mengampu layanan bimbingan dan konseling adalah pemberian
perhatian, pengarahan, pengendalian, dan pengawasan kepada sekurangkurangnya150
(seratus lima puluh) peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk
pelayanan tatap mukaterjadwal di kelas dan layanan perseorangan atau kelompok
bagi yang dianggap perlu dan memerlukan.
ü Penilaian
kinerja Guru bimbingan dan konseling (konselor) pada Pasal 22 ayat (5)
Peraturan bersama MenteriPendidikan Nasional dan Kepala Badan Kepegawaian
Negara Nomor 03/V/PB/2010 dan Nomor 14 tahun 2010 tentangpetunjuk Pelaksanaan
Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya dinyatakan bahwa penilaian kinerja
Gurubimbingan dan konseling (konselor) dihitung secara proporsional berdasarkan
beban kerja wajib paling kurang 150
(seratus
lima puluh) orang siswa dan paling banyak 250 (dua ratus lima puluh) orang
siswa per tahun.
ü Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar KualifikasiAkademik dan Kompetensi
Konselor, yang menyatakan bahwa kualifikasi akademik konselor dalam satuan
pendidikanpada jalur pendidikan formal dan nonformal adalah: (i) sarjana
pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling ;(ii) berpendidikan
profesi konselor. Kompetensi konselor meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian,kompetensi sosial, dan kompetensi profesional, yang berjumlah 17
kompetensi dan 76 sub kompetensi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar